Nama Langkat diambil dari nama Kesultanan Langkat yang dulu pernah ada di tempat yang kini merupakan kota kecil bernama Tanjung Pura, sekitar 20 km dari Stabat.
Pada
masa Pemerintahan Belanda, Kabupaten Langkat masih berstatus
keresidenan dan kesultanan (kerajaan) dengan pimpinan pemerintahan yang
disebut Residen dan berkedudukan di Binjai dengan Residennya Morry
Agesten. Residen mempunyai wewenang mendampingi Sultan Langkat di bidang
orang-orang asing saja sedangkan bagi orang-orang asli (pribumi/
bumiputera) berada di tangan pemerintahan kesultanan Langkat.
MONUMEN TENGKU AMIR HAMZAH
Salah
Satu Bangunan Peninggalan Pada ini adalah Monumen Tengku Amir Hamzah
yang terletak persis di Alun -Alun T. Amir Hamzah Stabat, Tepatnya di
Depan Kantor Bupati Langkat.
Tengku Amir Hamzah yang bernama
lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera Lahir di
Tanjung Pura , 28 Februari 1911 dan meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret
1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang sastrawan indonesia angkatan
Pujangga Baru . Ia lahir dalam
lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat ) dan banyak
berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.
Amir
Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi
penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.
Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus
dihargai hingga zaman sekarang.
Bersama dengan Sultan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian
oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru . Kumpulan puisi karyanya yang lain,
Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia.
Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat
Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
MESJID AZIZI Tanjung Pura
Berdiri di atas tanah seluas 18.000 meter
persegi, masjid tua ini dibangun pada masa Sultan Abdul Aziz Djalil
Rachmat Syah (1897-1927), sultan Langkat ke-7. Pada masa inilah
Kesultanan Langkat kaya raya dengan kontrak minyak dan perkebunan tembakau
dengan pemerintah Hindia Belanda. Tak heran jika Istana Darul Aman Langkat
juga dibangun pada masa ini.
Didirikan hanya dalam 18 bulan dan menelan
biaya 200.000 ringgit, masjid ini memadukan corak arsitektur Tiongkok, Persia,
Timur Tengah, dan tentu saja Melayu sendiri. Menara yang menjulang di
halamannya serta ukiran pada pintu-pintunya bernuansa arsitektur Tiongkok.
Bangunan utamanya bercorak Timur Tengah dan
India dengan lebih dari sembilan kubah. Di dalamnya terdapat bangunan segi
sembilan dengan tiang menjulang ke atas. Tempat khatib berkhutbah
berbentuk mihrab berundak yang cukup tinggi seperti pelaminan
raja.
Usianya memang sudah cukup tua, 105 tahun
sejak didirikan pada 12 Rabiul Awal 1320 H atau 13 Juni 1902. Ia adalah
saksi bisu peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Langkat dari masa
silam hingga kini; masa dimana banyak orang hanya melihatnya sebagai
monumen masa lalu yang nyaris terlupakan.
Setiap tahunnya diadakan Festival Azizi di masjid ini.
Kegiatannya beragam, mulai dari lomba barzanzi, azan, marhaban, dan
baca puisi. Ini untuk memperingati tahun wafatnya Tuan Guru Besilam
Babussalam Syeikh Abdul Wahab Rokan, yang dikenal sebagai ulama
penyebar Tariqat Naqsabandiah. Pengikutnya menyebar hingga ke Aceh,
Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, dan negara-negara Asia Tenggara.
GEDUNG MABMI
Gedung
Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI)Langkat, Dengan Ornamen Khas
Melayu, Merupakan Salah satu Rumah Adat yang Ada Di Langkat.
mengambarkan bahwa di daerah Kabupaten Langkat mayoritas penduduknya
adalah suku melayu (maye-maye ).
Suku Melayu
Langkat , berbicara dalam bahasa Melayu Maya-maya (maye-maye ) dengan
dialek "e" mirip dengan dialek orang melayu Malaysia.
Masyarakat suku Melayu Langkat ini hampir seluruhnya
memeluk agama Islam, yang telah berkembang di kalangan orang Melayu Langkat
sejak beberapa abad yang lalu. Agama Islam begitu kuat tumbuh dalam masyarakat
Melayu Langkat, terlihat dari segala bentuk tradisi adat-istiadat dan budaya
suku Melayu Langkat banyak dipengaruhi unsur budaya Islam.
Orang Melayu Langkat memiliki rumah tradisional dengan
bentuk khas Melayu. Dibangun dengan bentuk rumah panggung, biasanya dibuat dari
bahan kayu hitam. Pintu masuk biasanya berada di samping rumah, dengan
sebuah tangga, tapi saat ini sudah ada yang menempatkan pintu masuk dan tangga
di depan rumah. Rumah suku Melayu Langkat ini memiliki atap dengan daun
nipah yang banyak terdapat di rawa-rawa daerah ini. Atap daun Nipah ini memberi
kesejukan di bawahnya meskipun cuaca sedang sangat terik dan panas.
Matapencarian suku
Melayu Langkat, saat ini memiliki profesi beragam, tetapi sebagian besar hidup
sebagai petani. Mereka menanam berbagai jenis tanaman, seperti padi, ubi,
jagung, berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Di daerah pesisir biasanya
menjadi nelayan. Di luar itu mereka memilih profesi sebagai pedagang, nelayan,
sektor pemerintahan dan sektor swasta. Di sisi lain beberapa dari mereka
menjadi buruh di perkebunan dan lain-lain.


